Senin, 23 November 2009

pengembangan sisitem informasi pendidikan

PENGEMBANGAN SISTEM IFORMASI PENDIDIKAN


PENDAHULUAN

Era yang akan dilalui oleh perjalanan sejarah peradaban manusia di muka bumi ini adalah era informasi, setelah berlalunya era pertanian dan era industri pada masa-masa sebelumnya. Berbagai ciri era baru ini telah dikemukakan oleh para pakar; antara lain misalnya oleh Rogers [1986], yang memberikan indikasi berupa terwujudnya suatu “masyarakat informasi” yaitu masyarakat yang sebagian besar anggotanya berfungsi sebagai pekerja informasi. Lebih lanjut Rogers mendefinisikan pekerja informasi sebagai2: “ .........individuals whose main activity is producing, processing, or distributing information, and producing information technology. Typical information worker occupations are teachers, scientists, newspaper reporters, computer programmers, consultants, secretaries, and managers. These individuals write, teach, sell advice, give orders, and otherwise deal in information.” Penulis ingin menggaris-bawahi, bahwa menurut Rogers sebagaimana diuraikan di atas, salah satu jenis profesi penting dalam era informasi adalah profesi guru, yang pekerjaan utamanya adalah mengajar. Pada bagian lain dari bukunya, Rogers menyebutkan bahwa lembaga sosial kunci dalam masyarakat informasi adalah research university, yang punya peranan sentral dalam masyarakat sebagaimana pabrik baja dalam masyarakat industri dan sawah-ladang dalam masyarakat pertanian3. Dengan ini penulis ingin memperlihatkan betapa pentingnya peranan sistem pendidikan (universitas, guru, aktivitas mengajar, semua ini merupakan bagian-bagian penting sistem pendidikan) pada era informasi mendatang.

Satuan dasar informasi adalah bit4. Data yang dikirim dan diterima melalui saluran-saluran komunikasi dalam sistem komunikasi data tersusun dari bit-bit digital. Dalam era informasi, sistem komunikasi data adalah sarana penunjang utama untuk sistem distribusi informasi, sebagaimana sistem transportasi merupakan sarana penunjang utama dalam sistem distribusi produk industri dalam era industri dan era pertanian sebelumnya.

Makalah ini berupaya mendiskusikan bagaimana kiranya hubungan semua ini, khususnya sistem pendidikan dan sistem komunikasi data, dalam era terbentuknya masyarakat informasi pada masa mendatang.


SISTEM PENDIDIKAN

Titik sentral semua sistem pendidikan, baik pendidikan formal, informal mau pun non-formal, adalah hubungan manusiawi yang terbentuk antara pendidik dan peserta-didik. Hubungan ini secara teknis bisa saja direduksi menjadi “proses belajar-mengajar”, tapi jelas proses belajar-mengajar saja tidak dapat mencerminkan keseluruhan sistem pendidikan. Proses yang terjadi dalam sistem pendidikan juga tidak dapat direduksi menjadi sekedar suatu proses transfer pengetahuan atau ketrampilan saja. Lebih-lebih lagi, sistem pendidikan jelas tidak mungkin dipandang secara sederhana sebagai sekedar proses distribusi informasi belaka. Tapi proses belajar mengajar, transfer pengetahuan dan ketrampilan serta proses distribusi informasi adalah beberapa elemen kunci dalam sistem pendidikan. Tujuan bersama (common goal) semua proses dalam sistem pendidikan adalah perkembangan peradaban manusia di muka bumi dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Perkembangan peradaban pun, tidak dapat disempitkan menjadi sekedar “pewarisan nilai-nilai”, melainkan lebih dari itu, adalah segenap upaya dan budidaya manusia agar dapat mempertahankan fungsi utama keberadaannya di muka bumi, yaitu membangun pengabdian yang menyeluruh kepada Sang Maha Pencipta sebagaimana telah ditetapkanNya.

Dengan begitu kualitas sistem pendidikan sangat tergantung pada “empati” yang terbentuk dalam hubungan antara para pendidik dengan peserta-didiknya masing-masing. Tanpa terbentuknya “empati” ini, proses apa pun dalam sistem pendidikan sebagaimana yang antara lain disebutkan di atas, akan kering dari makna sesungguhnya, tinggal menjadi kerangka-kerangka teknis belaka. Tidak heran jika kualitas produk sistem pendidikan yang terbaik justru diperoleh melalui proses-proses “tradisional” dalam sistem pendidikan, seperti metode belajar-mengajar "talk and chalk" di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di dunia serta hubungan kiyai-santri di pesantren-pesantren tradisional di tanah-air. Universitas Islam Antar-Bangsa (Islamic International University) di Malaysia yang sangat modern, justru menerapkan sistem “usrah” (dengan profesor duduk melingkar bersama dengan para asisten dan mahasiswa-nya) dalam kuliah-kuliah di Fakultas Teknik sekali pun.

Para pakar pendidikan boleh bersepakat bahwa penggunaan teknologi non-konvensional untuk menjalankan proses-proses dalam sistem pendidikan tidak akan meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi – tentu saja – bukan berarti introduksi teknologi non-konvensional itu tidak ada gunanya sama-sekali. Walau pun tidak meningkatkan kualitas secara signifikan, penggunaan teknologi kependidikan jelas dapat meningkatkan kuantitas sistem pendidikan (yang berarti meluasnya peluang dan kesempatan bagi peserta-didik) tanpa terlalu banyak mengurangi kualitasnya.

Tanpa campur-tangan teknologi non-konvensional, peningkatan kuantitatif dari proses-proses dalam sistem pendidikan - yang berarti terbukanya kesempatan dan peluang bagi lebih banyak peserta-didik serta lebih meluasnya materi pendidikan - dengan sendirinya mengandung konsekuensi logis menurunnya kualitas (degradasi) sistem pendidikan secara drastis. Harapan pada aplikasi teknologi non-konvensional dalam berbagai proses pendidikan hanya terletak pada minimisasi terjadinya degradasi ini saja. Dengan perkataan lain, teknologi non-konvensional diberdayakan dan dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pendidikan, hanya untuk menolong agar kualitas sistem pendidikan tidak menurun sedrastis dibandingkan ketika dilakukan upaya peningkatan kuantitatif tanpa introduksi teknologi non-konvensional.


SISTEM KOMUNIKASI DATA

Kendala utama dari perluasan kuantitatif sistem pendidikan adalah terbatasnya ruang dan waktu. Pendidik yang memenuhi standar serta sesuai dengan kebutuhan tidak selalu berada dalam satu dimensi ruang dan waktu dengan peserta-didik yang memerlukan kehadirannya. Dengan demikian, kesempatan peserta-didik untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tinggi secara langsung melalui proses-proses pendidikan yang konvensional (“talk and chalk”, santri-kiyai, usrah) dari pendidik yang sesuai pun terbatas dan langka sekali. Inovasi teknologi komunikasi data dapat diberdayakan untuk menembus kendala ruang dan waktu ini. Materi pendidikan yang dipilah-pilah menjadi paket-paket informasi dapat dikirim dan ditansfer kesana-kemari melintasi ruang melalui sistem komunikasi data bit demi bit tanpa kesulitan. Dengan sistem pemberkasan (filing-systems) data elektronik, materi-materi pendidikan yang bermutu dapat pula disimpan dan diakses sewaktu-waktu diperlukan, melintasi dimensi waktu.

Teknologi Internet yang berintikan sistem komunikasi data paket, telah membuka kemungkinan yang hampir tak terbayangkan sebelumnya tentang “globalisasi” sistem informasi. Dunia menjadi satu tanpa batas, rentang waktu menjadi tak berarti, kemarin dan esok, hari ini, sama saja. Ratusan juta terminal data telah terhubung satu sama lain – baik secara permanen mau pun temporer - di seluruh penjuru dunia dengan kapasitas total trilyunan bit informasi yang sewaktu-waktu dapat di-transfer dan di-akses ke sana ke mari. Pada kurun waktu di masa depan yang tak akan terlalu lama lagi, kita akan menyaksikan konvergensi media, semua berbasis komunikasi data. TV, Radio, suratkabar, telepon, telegraf, facsimile, semua akan menyatu dengan sistem perbankan, travel-bureau, supermarket, penerbitan, pusat-pusat perbelanjaan, seluruhnya menjadi “on-line” dengan sistem komunikasi data. Lantas bagaimana dengan sistem pendidikan? Universitas, perpustakaan, kursus-kursus ketrampilan, sekolah, sekarang ini pun sudah bisa “on-line”, berkat sistem komunikasi data. Secara teoritis berarti kendala ruang dan waktu sudah teratasi, kapasitas sistem pendidikan menjadi tak terbatas, kuantitas dapat ditingkatkan semaksimum mungkin. Peningkatan kuantitas yang maksimum ini jelas tidak akan serta-merta diikuti oleh peningkatan kualitas, bahkan untuk mempertahankannya saja sudah akan sulit sekali.

Haruslah disadari sepenuhnya bahwa pemberdayaan sistem komunikasi data untuk pengembangan sistem pendidikan hanya akan meningkatkan kuantitas dan kapasitas sistem pendidikan dengan seminimal mungkin mencegah degradasi mutunya, tetapi sekali-sekali tidak akan pernah dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan itu sendiri. Sebuah universitas “on-line” dapat saja dibangun dengan menerapkan secara intensif sistem komunikasi data yang canggih, tapi yang akan dihasilkan hanyalah suatu “virtual university” atau universitas semu di dunia maya, sama sekali bukan universitas yang sesungguhnya. Tapi di lain fihak, menanggapi keberadaan universitas semu ini dengan sikap negatif saja juga tidak akan menyelesaikan masalah. Bagaimana pun, pemanfaatan sistem komunikasi data untuk mengembangkan suatu sistem pendidikan jelas akan meningkatkan kapasitas serta memperluas peluang anak-didik untuk memperoleh materi yang lebih banyak dan mendapatkan akses ke pusat-pusat informasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akan terakses karena keterbatasan ruang dan waktu, walau pun semua ini tetap tidak akan pernah menjadi alternatif pengganti dari sistem pendidikan konvensional. Analogi-nya, walau pun dengan sistem komunikasi data dimungkinkan untuk membaca suratkabar secara “on-line” dengan komputer melalui Internet, tidaklah serta-merta orang akan berhenti berlangganan suratkabar dan ganti berlangganan ISP (Internet Service Provider) saja, sebab membaca suratkabar “on-line” tetap saja berbeda dengan membaca suratkabar yang “real” sambil minum kopi menunggu terhidangnya sarapan pagi di meja makan.

Dengan sistem komunikasi data melalui Internet kita dapat meng-akses perguruan-perguruan tinggi kelas dunia lalu menikmati sajian materi-materi kuliah dari profesor-profesor terkemuka di bidangnya. Harus difahami dengan jelas bahwa menikmati sajian para profesor ini melalui sistem komunikasi data tetap saja berbeda dengan duduk sendiri “in person” di kelas sang profesor dan memperhatikannya bermain dengan “talk and chalk”-nya. sambil ber-“chit-chat” tentang materi kuliah yang dibawakannya. “Real education” tetap memerlukan interaksi langsung antara pendidik dan peserta-didik dalam ruang dan waktu yang sama. Tapi masalahnya, berapa banyak peserta-didik mendapatkan peluang untuk suatu kemewahan ber-“chit-chat” langsung dengan pendidiknya, serta berapa banyakkah materi yang dapat dibahas dalam pertemuan yang begitu singkat? Sistem komunikasi data memungkinkan berkembang lebih luasnya kesempatan dan peluang bagi peserta-didik yang lebih banyak untuk sekedar ikut mencicipi berbagai “kemewahan” sistem pendidikan, walau pun tetap tidak pernah akan memberi kesempatan pada peserta-didik ini untuk merasakan “the real education”-nya. Ibaratnya, bisa saja dibuat daging kepiting tiruan (artificial crab) yang murah-meriah sehingga bisa lebih banyak orang yang dapat merasakan enaknya daging kepiting, tapi merasakan daging kepiting yang aslinya tentu hanya menjadi kehormatan bagi sebagian kecil orang saja.

Pemberdayaan penggunaan sistem komunikasi data untuk sistem pendidikan sama sekali tidak dapat dimaksudkan sebagai alternatif pengganti dari sistem pendidikan yang ada, melainkan hanya bersifat suplementer (tambahan) dan komplementer pelengkap) kepada sistem pendidikan yang ada, yang telah dibangun selama berabad-abad dengan akar tradisi dan metode yang telah baku, sesuai dengan harkat, martabat dan fithrah manusia sendiri.

Singkatnya, sistem komunikasi data berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana penunjang sistem pendidikan, khususnya untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pendidikan, untuk memperbesar peluang akses ke berbagai pusat informasi pendidikan dan memperbesar peluang anak-didik untuk mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu dalam berinteraksi dengan para pendidik, tapi ini semua hanyalah meningkatkan kuantitas sistem pendidikan, dan sama sekali tidak meningkatkan kualitasnya.

Pengelolaan Perpustakaan

Pengelolaan Perpustakaan


Untuk memenuhi kebutuhan informasi kepada masyarakat pengguna jasa perpustakaan diperlukan suatu pengembangan koleksi perpustakaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan terpenuhi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Magrill dan Corbin (dalam Qalyubi, 2007) bahwa pengembangan koleksi bahan pustaka merupakan serangkaian proses kegiatan yang bertujuan memepertemukan pemakai dengan rekaman informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit perpustakaan. Dalam proses pengembangan dan pengolahan bahan pustaka di perpustakaan yang perlu diperhatikan antara lain :

  1. Pengolahan Bahan Pustaka

  1. Kebijakan pengembangan Koleksi

Kebijakan pengembangan koleksi yaitu proses memastikan bahwa kebutuhan informasi dari para pengguna jasa perpustakaan akan terpenuhi secara tepat waktu dan tepat guna dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang dihimpun oleh perpustakaan.

  1. Seleksi Bahan Pustaka

Seleksi dapat diartikan secara umum sebagai tindakan, cara atau proses memilik. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi bahan pustaka dimaksudkan bahwa kegiatan mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditambahkan pada koleksi yang sudah ada diperpustakaan.

Dalam seleksi bahan pustaka yang perlu diperhatikan seperti; 1) tujuan, cakupan dan kelempok pembaca; 2) Tingkat koleksi; 3) otoritas dan kredibilitas pengarang; 4) harga; 5) Kemutahiran; 6) penyajian fisik buku; 7) Struktur dan metode penyajian; indek dan abstrak.

  1. Sumber-sumber seleksi (alat bantu seleksi)

Sumber-sumber seleksi bahan pustaka atau alat bantu dalam menyelsi bahan pustaka yang akan diadakan oleh perpustakaan antara lain : Katalog penerbit, bibliografi, tokoh buku serta judul-judul buku yang diambil di internet dan sebagainya.

  1. Pengadaan bahan pustaka

Pengadaan bahan pustaka adalah merupakan proses pembelian bahan pustaka yang dibutuhkan oleh perpustakaan yang biasanya berdasarkan kebutuhan para pengguna jasa perpustakaan.

  1. Invetarisasi

Inventarisasi adalah merupakan pencatatan bahan pustaka baik yang didapat dari pembelian, hadiah, wakaf, tukar menukar kedalam buku induk.

Tujuan infentarisasi adalah : 1) mempermudah pustakawan dalam pengadaan bahan pustaka berikutnya, 2) memudahkan pustakawan untuk mengawasi terhadap koleksi yang dimiliki, 3) memudahkan pustakawan dalam pelaporan tahunan tentang jumlah koleksi yang dimiliki.

  1. Pemberian Stempel perpustakaan.

Pemberian stempel perpustakaan bertujuan untuk memberikan identitas tentang koleksi bahan pustaka yang dimilki oleh perpustakaan. Dalam pemberian stempel ini terdiri dari stempel hak milik dan stempel inventarisasi yang letaknya sesuai dengan standar perpustakaan.

  1. Katalogisasi

Proses katalogisasi merupakan pembuatan identitas atau data bibliografi bahan pustaka dengan tujuan mempermudah pengguna jasa perpustakaan untuk temu kembali informasi bahan pustaka. Data bibliografi tersebut biasanya terdiri dari, pengarang, pengarang tambahan, judul, anak judul, judul seragam, penerbit, tempat terbit, edisi, tahun terbit,bibliografi, jumlah halam dll. Catalog ini pada umumnya terbagi atas catalog judul, pengarang dan subyek.

Tujuan katalogisasi menurut Carles Ammi Cutter (dalam Qalyubi, 2007) bahwa tujuan catalog perpustakaan adalah :

  1. Memberikan kemungkinan seseorang menemukan sebuah buku yanh diketahui berdasarkan pengarang, judul buku dan subyeknya.

  2. Menunjukan buku yang dimilki perpustakaan dari pegarang tertentu, berdasarkan subyek tertentu, dan dalam literatur tertentu.

  3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya.

  1. Pemasangan kelengkapan bahan pustaka

Pemasangan kelengkapan , bahan pustaka adalah pekerjaan pemasangan beberapa identitas buku seperti : label buku, lembaran tanggal kembali, kartu buku, kantong buku,

  1. Klasifikasi

Kalsifikasi merupakan pengelompokan disiplin ilmu berdasarkan sistim tertentu. Dalam mengelompokkan ilmu pengetahuan menurut Qalyuby, 2007, h.165 bahwa pengelompokan koleksi perpustakaan terdiri dari:

  1. Pengelompokan /klasifikasi artificial yang artinya sistim pengelompokan koleksi berdasarkan ukuran, warna, ataupun data fisik lainnya.

  2. Pengelompokan/kalsifikasi fundamental artinya pengelompokan berdasarkan subyek tertentu.

Dengan adanya perkembangan klasifikasi pada dasarnya yang paling banyak digunakan diperpustakaan-perpustakaan di Indonesia sekarang ini adalah adanya pembagian disiplin ilmu berdasarkan subyek tertentu, didukung dengan adanya petunjuk klasifikasi yang dibuat oleh Deway yaitu Deway Desimal Classifikation (DDC) dimana Deway membagi disiplin ilmu pengetahuan menjadi 10 disimpil ilmu antara lain :

000 Karya Umum

100 Filsafat

200 Agama

300 Ilmu Sosial

400 Bahasa

500 Ilmu Murni

600 Ilmu Tarapan

700 Seni, olahraga

800 Kesusastraan

900 Sejarah dan geografi.

  1. Penginputan kedalam Data Base

Penginputan adalah salah satu proses pemasukan data bibliografi bahan pustaka kedalam computer. Tujuannya adalah untuk membuat suatu pangkalan data bahan pustaka di perpustakaan dalam suatu server sehingga lebih mudah untuk dikoneksikan terhadap suatu jaringan apakah dalam bentuk LAN, WAN, atau ke Internet.

  1. Scenning

Scenning dilakukan dalam rangka mengalihmediakan bahan pustaka kedalam bentuk elektronik baik ke dalam data base maupun kedalam bentuk CD atau bentuk elektronik yang lainnya. Tujuan pengalihan adalah untuk memudahkan pengguna jasa perpustakaan dalam menelusuri bahan pustaka, termasuk untuk mengawetkan bahan pustaka.

  1. Layanan Perpustakaan

Layanan pada dasarnya adalah orang yang memberikan atau mengurus apa yang diperlukan oleh orang lain baik berupa barang atau jasa kepada pengguna jasa perpustakaan yang membutuhkan suatu informasi. Layanan perpustakaan digital adalah pelayanan yang berorientasi pada pelayanan yang menggunakan computer, sehingga semua aktivitas yang berada didalam instansi atau organisasi tersebut diarahkan dengan menggunakan teknologi computer. Seperti yang dikemukakan oleh Gronroos (dalam Ratminto dan Winarsih, 2006:2) mendefenisikan pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata(tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan.

Dalam menyelenggarakan manajemen pelayanan dengan baik harus kita memperhatikan prinsip-prinsip manajemen pelayanan seperti :

  1. Identifikasi kebutuhan konsumen yang sesungguhnya.

  2. Sediakan pelayanan terpada (one stop shop)

  3. Membuat system yang mendukung konsumen

  4. Mengusahakan agar semua staf atau karyawan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan

  5. Melayani keluhan konsumen dengan baik

  6. Terus berinovasi

  7. Karyawan sama pentingnya dengan konsumen

  8. Bersikap tegas tapir amah terhadap konsumen

  9. Jalin komunikasi dan interaktif khusu kepada pelanggan

  10. Selalu mengontrol kualitas.

Pelayanan diperpustakaan yang sudah mulai berorientasi pada komputerisasi walaupun masih memilki kendalah dan hambatan-hambatan tetapi itulah yang menjadi tantangan bagi pengelolah perpustakaan. Untuk itu diharapakan layanan perpustakaan harus memberikan pelayanan prima, yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani pengguna jasa perpustakaan dengan prinsip people based service ( layanan yang berbasis pengguna ) dan Service excellence (Layanan unggulan). Antara kedua prinsip tersebut diatas pada dasarnya mengandung lima unsur pokok antara lain : 1) kecepatan; 2) ketepatan; 3)kebenaran; 4)keramahan; dan 5) kenyamanan/keamanan. Namun demikian terlaksananya layanan seperti yang diaharapkan diatas tercapai apabila semua unsur mendukungnya mulai dari puncak pimpinan sampai pada staf perpustakaan serta didukung dengan manajemen yang mantap. Selain hal tersebut diatas perlu juga melihat kualitas jasa layanan seperti :reliabilytas, responsiveness, assurance, empaty dan tangibles.

Pelayanan yang dilakukan terdiri dari, pelayanan sirkulsi, referensi, koleksi langkah, layanan koleksi deposit, layanan pemeliharan bahan pustaka dan layanan otomasi perpustakaan. Dari masing-masing layanan tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut :

  1. Layanan sirkulasi

Layanan sirkulasi adalah layanan dimana pengguna jasa perpustakaan akan menerima pelayanan dari pengelolah perpustakaan. Pelayanan sirkulasi memiliki kegiatan-kegiatan antara lai : Mengadakan pendaftaran anggota baru, Peminjaman,Pengembalian, Pemugutan denda,penaglian, Pemugutan denda,penagihan, pembuatan statistic serta hubungan dengan masyarakat.

  1. Layanan referensi

Layanan referensi adalah merupakan salah satu layanan perpustakaan dimana berhubungan langsung dengan pengguna jasa perpustakaan. Dalam layanan referensi ini kebanyakan petugas menerima pertanyaan-pertanyaan dari pengguna jasa perpustakaan. Koleksi-koleksi referensi seperti : Ensiklopedia,Kamus,Buku Tahunan/almanak, Bukua petunjuk, buku pegangan/buku pedoman, bibliografi, indeks, abstarak, peta, penerbitan pemerintah, sumber biografi dan sumber-sumber ilmu buni lainnya.

  1. Layanan Koleksi Langkah

Layanan koleksi langka adalah layanan terhadap pengguna jasa perpustakaan terhadap koleksi-koleksi yang ada diperpustakaan termasuk buku-buku tua, yang kadang berbahasa asing.

  1. Layanan Koleksi Deposit

Layanan Koleksi deposit adalah layanan terhadap pengguna jasa perpustakaan terhadap koleksi-koleksi khusus terbitan daerah Sulawesi selatan.

  1. Layanan Pelsetarian Bahan Pustaka

Layanan pelestaraian bahan pustaka diperuntukan bagi pengguan jasa perpustakaan yang membutuhkan informasi mengenai bagaimana cara merawat dan memperbaiki bahan pustaka yang rusak termasuk didalamnya bagaimana menjilid surat kabar dan majalah.

  1. Layanan Otomasi perpustakaan

Layanan otomasi perpustakaan dimana layanan ini memberikan pelayanan kepada pengguna jasa perpustakaan bagaimana menggunakan computer dalam menelusuri koleksi bahan pustaka, pengalih median bahan pustaka serta pelayanan internet.

  1. Hambatan

Dalam pengelolaan perpustakaan sampai kepada pelayanan terhadap pengguna jasa perpustakaan masih mengalami hambatan-hambatan yang perlu penyelesaian seperti :

  1. Dana

Dana sampai sekarang dana untuk pengembangan perpustakaan masih sangat minim sehingga kebutuhan untuk meningkatkan layanan kepada pengguna jasa perpustakaan masih tidak seimbang.

  1. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia di lingkungan perpustakaan masih kurang hususnya mengenai teknilogi informasi sehingga dengan mengikuti perkembangan selalu ketinggalan selain itu sumber daya manusia diperpustakaan belum berorientasi pada pelayanan public masih bersifat structural.

  1. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana untuk mendukung teknologi informasi masih minim sehingga pelaksanaan tugas kadang tidak optimal karena sarananya minim.

  1. Pejabat atau Pimpinan Perpustakaan

Pejabat atau pimpinan perpustakaan kadang juga jadi kendala karena yang diangkat menjadi pimpinan di perpustakaan tidak mengerti perpustakaan.

  1. Pengguna Perpustakaan

Pengguna perpustakaan masih belum memiliki rasa memiliki sehingga di perpustakaan kadang terjadi pengrusakan koleksi bahan pustaka atau sarana informasi yang lainnya.